Republika kemaren memuat pernyataan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari tentang bakteri Enterobacter Sakazakii (ES). Bisa diakses di alamat http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=326005&kat_id=13. Dan selengkapnya bisa dibaca dibawah ini
Menkes: Susu Formula Aman Dikonsumsi
JAKARTA — Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari meminta masyarakat tidak resah sehubungan dengan hasil penelitian IPB tentang sejumlah susu formula dan makanan bayi yang tercemar bakteri Enterobacter sakazakii (ES). Menurutnya, dalam penelitian itu dikemukakan bahwa bakteri ES berbahaya, tetapi tidak dicantumkan berapa kadar bakteri sampai pada tingkat yang membahayakan.
”Jenis bakteri ini juga tidak berpengaruh buruk jika disajikan dengan benar dan hygienis,” ungkapnya dalam pertemuan dengan editor kesehatan sejumlah media massa di Jakarta, Selasa (4/3). Susu formula dan makanan bayi, jelas Menkes, yang beredar saat ini aman dikonsumsi karena sudah menjalani pemeriksaan BPOM. Dengan demikian, bila ada produk yang tidak memenuhi syarat uji mutu pangan dan gizi, maka otomatis tidak akan mendapat izin edar. Selain itu, pengawasan produk pangan terhadap berbagai macam cemaran dilaksanakan secara rutin.
”Susu formula dan makanan bayi termasuk prioritas untuk dilakukan pengujian,” katanya. Menkes juga menegaskan hingga kini pemerintah belum melakukan penarikan produk susu formula sebelum mendapatkan hasil pengecekan ulang dari BPOM. ”Saya sudah menginstruksikan kepada Badan POM untuk mengecek beberapa macam susu kemasan yang ada di Indonesia. Sekarang sedang dikerjakan,” kata Menkes di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (04/3).
Dia mengatakan, data penelitian terhadap susu formula dan makanan bayi yang dilakukan oleh Dr Sri Estuningsih dari IPB itu adalah produk dan data tahun 2003. Jadi, katanya, kalau dilacak lagi produk-produknya, sudah tidak ada. Menanggapi desakan Komisi Perlindungan Anak agar pemerintah menarik semua produk susu formula dari pasaran, Menkes menegaskan itu tidak perlu dilakukan. ”Jangan dong. Nanti kalau sekarang ternyata hasil (pengecekan BPOM)-nya tidak ada (bakteri), kan nggak fair. Kasihan rakyatnya jadi tidak makan susu.”
Sementara itu, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) meminta pemerintah tidak terlalu berlebihan dengan hasil temuan IPB tentang susu formula ini. Hal ini disampaikan Indah Suksmaningsih, anggota pengurus harian YLKI pada diskusi yang diadakan IPB untuk mengklarifikasi masalah susu yang mengadung bakteri, Selasa (4/3). Dalam diskusi itu hadir seluruh tim peneliti tentang bakteri dalam susu dari IPB dan ahli kesehatan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia IDAI dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI).
Menurut Indah, jika pemerintah mengaggap tidak ada bakteri ES dalam produk susu formula maka pemerintah harus mengeluarkan pernyataan resmi dan terbuka bahwa produk susu formula aman dikonsumsi. Bukan justru tidak mengakui adanya penelitian dari IPB itu. Bahkan, menyangsikan kredibilitas IPB sebagai institusi pendidikan.
Ketua IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), Sukman T Putra, menyatakan, pihaknya sampai saat ini belum menemukan kasus yang terkena meningitis akibat meminum susu yang mengandung ES. ”Kalau pun ada bayi yang terkena meningitis itu karena virus seperti TBC,” ungkapnya.
Dia juga mengatakan bahwa ES ini bisa berada di mana-mana termasuk di sayuran, debu, atau tempat-tempat yang cenderung kering. Oleh karenanya jika ada bayi yang sakit akibat meminum susu, harus diteliti lebih dahulu penyebabnya benar-benar dari susu atau yang lain. c62/wed/mag
( )








sejak ada laporan dari IPB itu suasananya agak ribet yah…tapi setidaknya ada unsur edukasinya ke publik…orang jadi awas tentang hal-hal yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi oleh bayi
jadi ibu-ibu di indonesia tambah pintar (atau bingung yah ?)
kenapa tidak segera di publikasikan saja susu2 yang terkontaminasi tersebut….
paling bener pake ASI ajah, ok?